Jumat, 26 Juli 2013

Abra kadarba: KURIUKULUM 2013


                 Dalam hitungan mundur  hari, dunia pendidikan  segera meninggalkan tahun pelajaran 2012/ 2013 memasuki jenjang yang lebih baru. Sebagian pekerjaan pada kelas akhir telah selesai, ditandai dengan      kelulusan pada masing tingkatan jenjang didik yang sudah diterimakan pada peserta didik. Sisa pekerjaan akhir, menuntaskan siswa untuk jenjang tingkatan kelas yg lebih tinggi satu tingkat sedang berlangsung. Lewat uji kompetensi kenaikkan kelas, berlanjut pada penerimaan laporan pendidikan, maka ditutuplah tahun ajaran dimaksud dan siap memasuki tahun ajaran baru 2013/ 2014.
            Sudah diketahui umum, akan nampak wajah baru diawal tahun pelajaran ini. Katanya- maaf istilah ini terpaksa disajikan, karena lingkungan intern dunia pendidkan sendiri secara umum belum pernah tahu keadaan sebenarnya kurikulum baru yang akan diperlakukan- wajah baru ini berupa seperangkat kurikulum yang akan diterapkan pada awal ajaran yang hingga detik akhir ini wajah sebenarnya kurikulum itu belum jelas benar. Apakah wajah kurikulum itu berupa modivikasi yang telah ada, buatan baru, tata model jiplakan negara tetangga dengan copy paste disana-sini atau hasil renungan dan pemikiran para ahli pendidikan Indonesia.
CEPAT-KILAT
            Memang pernah dilakukan, sosialisasi dan dengar pendapat umum lewat berbagai seminar dan kajian dikalangan terbatas yang mengumumkan rancangan kurikulum yang segera diterapkan pada tahun ini. Pro kontra silang pendapat sempat berkumandang. Beberapa wilayah diberi kesempatan untuk memberikan masukan agar terlihat sempurna dan layak pakai. Safari kurikulum pun berlangsung. Dana pun digelontorkan. Sebentar kemudian hening tak nampak lagi kehangatan awal, seolah hilang ditelan waktu. Sekonyong-konyong muncul, mulai tahun ajaran baru, untuk kelas 1, 4, 7 dan 10 segera berlaku kurikulum baru. 
            Sebegitu mudahkah cara pandang dunia pendidikan kita terhadap kurikulumnya?
            Merujuk pada kejadian di atas, mungkin masih segar dalam ingatan ketika keadaan dunia pendidikan di tahun 70 hingga 80-an. Dibeberapa wilayah tanah air, termasuk Semarang, ada sekolah laboratorium milik IKIP saat itu. Lembaga pendidikan di bawah naungan perguruan tinggi pencetak tenaga guru punya lembaga pendidikan tingkat dasar hingga menengah telah menjalankan fungsi utama dalam tugasnya. Pertama, sebagai tempat menggodok para calon guru melakukan pembelajaran bagaimana mengajar yang baik menurut acuan dunia pendidikan baku.
            Dengan memiliki lembaga sekolah sendiri, IKIP mampu membekali para mahasiswa calon guru dengan ketrampilan memadai untuk terjun kelak sebagai guru. Proses tugas yang dilakukan bisa dikatakan sesuai skenario pengajaran yang harus dilakukan. Kebutuhan dunia praktek kepengajaran bisa dipenuhi bagi mahasiswa calon guru.
Beda dengan sekarang, untuk membekali mahasiswa calon guru, lembaga kependidikan ini harus pinjam sekolah reguler dengan tingkat birokrasi yang bisa-bisa memperlambat kematangan ketrampilan seorang calon guru agar ahli dibidangnya. Apalagi dibatasi waktu. Maka jangan heran, produk guru di-dua jaman itu tidak bisa  sekualitas.
            Kedua, dalam range waktu tertentu digunakan sebagai uji coba penerapan rancangan kurikulum yang sengaja diciptakan untuk membawa perubahan pendidikan. Sepengetahuan penulis, merujuk pada catatan kecil semasa mengikuti studi kependidikan dijamannya, disampaikan para dosen saat itu, bahwa kurikulum bisa ditinjau dan direhab selama masa pakai 5-8 tahun.  Dalam tengah perjalanan, kurikulum dievaluasi. Yang kurang pas diperbaharui, yang sesuai disempurnakan. Jangan heran, muncul kurikulum 1975 Yang Disempurnakan.
            Bertambah matang, IKIP yang saat itu mengemban tugas menyusun kurikulum, memanfaatkan sekolah laboratorium secara optimal. Tak ada yang bisa mengusik ketika rancangan program kurikulum memasuki ujicoba di sekolah lab. Ujicoba dan ujicoba dilakukan tanpa mampu diinterfensi pihak lain. Dengan rentang waktu tertentu, rancangan kurikulum yang sudah diuji di sekolah laboratorium IKIP diujicobakan lagi pada tahap berikut pada sekolah reguler dengan takaran memadai. Bisa pada sekolah di tingkat pelosok, tingkat menengah hingga sekolah center yang telah menunjukkan tingkat kualiatas sarana dan prasarana lebih baik.
            Oleh karena itu, sebelum layak pakai, rancangan kurikulum itu harus sudah teruji petik dengan baik serta tingkat kualitas yang tidak diragukan. Walaupun, dalam proses perjalanannya ada penyempurnaan dimana perlu. Kurikulm sudah valid. Bandingkan dengan sekarang.
            Isu hangat paling akhir, kurikulum baru ini akan diterapkan pada tingkat kecamatan hanya untuk  2 (dua) unit sekolah tiap jenjang. Satu unit sekolah negeri dan satu swasta dengan kualitas akreditasi-A. Kalau di tingkat Kabupaten/Kota ada 9 kecamatan, maka sekolah yang menerapkan kurikulum baru itu hanya boleh 18 unit untuk tiap jenjang sekolah. Yang lain dikemanakan?  Yang lain boleh mamakai kurikulum yang dibuat sendiri oleh sekolah yang biasa disebut KTSP. Bagaimana kurikulum baru itu ?
            Selama ini, pelaku pendidikan belum pernah dengar apalagi lihat proses lahirnya kurikulum baru sebagaimana proses yang seharusnya terjadi pada gambaran di atas. Entah dari mana kurikulum ini bersumber.
Setelah ditelisik, kurikulum yang segera diterapkan tahun ini, diambil cibles dari KTSP yang diterapkan pada sekolah-sekolah unggulan. Ada SD unggulan terhimpun dalam satu kelompok diambil KTSP-nya diramu sedemikian rupa untuk diterapkan. Demikian pula untuk SMP, SMU/K unggulannya. Sedang terjadi instan-nisasi kurikulum terhadap dunia pendidikan Indonesia.  
Kebijakan kurikulum baru yang merujuk pada sekolah unggulan seharusnya tidak dilakukan. Paling tidak ada 3 alasan sebagai dasar. (1) Diawali kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang menghapus semua keberadaan sekolah unggulan yang terjadi di wilayahnya. Sekolah unggulan lebih dilihat sebagai pembentukkan kelas strata tertentu dari pada kepentingan dunia pendidikan.
Kebutuhan biaya yang sangat tinggi yang tidak bisa dibebankan begitu saja pada Kas Daerah/ Pusat terimbas pada peserta didik. Tidak sedikit keluhan yang muncul. Anak pandai dari keluarga pas-pasan seharusnya masuk didalamnya, kenyataan terlempar karena alasan ekonomi. Memungkinkan timbul kecemburuan. Ternyata ada yang tidak pas disini. Kalau struktur lembaganya dibubarkan, mengapa hal yang gagal harus dipakai dan jadi acuan?
(2) Output hasil didik belum mampu menunjukkan yang seharusnya terjadi. Dalam kenyataan, ditemukan output sekolah unggulan belum tentu melebihi reguler. Antusiasme orang tua memaksakan anaknya masuk sekolah unggulan, selain pandang kaca mata status sosial yang diharap, kelak mampu menembus jenjang pendidikan yang lebih tinggi satu tingkat tanpa halangan berarti. Dengan sarana dan prasara yang tersedia memadai, proses yang lebih baik, seharusnya output yang terjadi labih dari baik.
Kenyataan, dijumpai di lapangan, tidak semua peserta didik dalam proses unggulan menunjukkan hasil unggul. Ada yang sangat memuaskan, yang cukup baik, ada pula yang biasa-biasa saja. Muncul variatif hasil didik sebagaimana yang terjadi pada sekolahn reguler.
(3) Sekolah unggulan bukan lembaga yang seharusnya berubah sebagai tempat uji kelayakan suatu kurikulum yang harus mengalami uji petik, melainkan lahir dari sebuah ide yang melihat bertebarnya anak unggul yang perlu mendapat tampungan dan layanan pendidikan sesuai kebutuhan, agar lahir bibit yang baik bagi masa depan bangsa.
Kekurangtepatan yang tersaji, adanya reduksi terhadap prose yang terjadi menganggap semua yang terlihat adalah baik. Kenyataan tidak semuanya demikian.
Memang diakui, proses pembelajaran yang terjadi lebih baik, disebabkan tersedia dan tercukupinya sarana pendidikan lewat penghimpunan dana yang tidak kecil. Apa yang dijumpai sekolah unggulan kadang tak ada pada reguler. Ini mungkin yang membedakan. Selanjutnya,  pembubaran yang dilakukan di DKI berular panjang diikuti daedrah lain. Mungkin akhir tahun ajaran ini memasuki babak akhir dan tamat riwayat sekolah unggulan.
MATANGKAN DULU
            Semangat birokrat dalam merestorasi kurikulum perlu dibarengi stokeholder yang melingkarinya. Melibatkan guru, lembaga kependidikan, ahli didaktik dan praktisi lain sebagai penyeimbang harus disertakan.
            Melihat kasus yang terjadi, kurikulum “dadakan” ini lebih menunjukkan semangat birokrat yang berpegang pada pokoknya kurikulum baru harus sudah dilaksanakan. Kiranya lupa, pengalaman penyusunan KTSP dianggap cukup sebagai bekal menentukan kurikulum berikutnya adalah terlalu dini.
             Sebelum disajikan, kurikulum perlu dimatangkan dulu. Melibatkan lembaga kependidikan pencetak calon guru tak bisa dihindarkan. Karena, lembaga kependidikan- UNNES Semarang, UNJ Jogya, UPI Bandung- memiliki perangkat kompetensi yang tidak diragukan. Sebaliknya, lembaga kependidikan perlu membuka arsip lama. Membangun kembali jurusan yang tidur – program Kurikulum Didaktika- untuk menyiapkan tenaga ahli nantinya. Sinergi yang terjadi, tentu membawa dampak terhadap kemajuan dunia pendidikan kita.
            Pada akhirnya, membangun pendidikan untuk menyiapkan generasi unggul diperlu persiapan matang. Demikan halnya, menyusun kurikulum bukan sekedar program kegiatan biasa, melainkan perlu melibatkan banyak pihak yang ahli pada bidangnya agar menghasilkan rancangan kurikulum yang kualifait. Kalau dirasa belum pas, mengapa harus dipaksakan?


Kamis, 25 Juli 2013

Tour ke Besakih yang tak Terlupakan

        Tepat masa libur datang, kali ini order wisata mengalir. Ada 2 perjalanan wisata yg harus saya lakukan dalam persamaan hari. unt 28 Juni 2013, pagi jam 09.00 tour menuju Bali berlangsung lebih dulu. Bagian ini penulis memimipin langsung perjalanannanya. Sedang malam pk 20.00 tour ke arah Pangandaran-Bandung dalam satu paket, saya tugaskan tour leader bersama seorang pendamping melaksanakan tugas ini. Jadi hari itu tugas dua tour harus saya lakukan.
         Perjalanan kali ini, hasil ke Bali, lebih khusus ke Besakih.
         Tour ini merupakan permintaan seorang ibu yang sukses yang ingin membahagiakan keluarga besarnya dengan mengajak ke Bali. Kali ini saya ketiban sampur unt mengantarkannya. Setelah menyiapkan diri amunisi seperti biasa -membawa snack, minuman, menempelkan mmt perjalanan; bus melaju ke lokasi peserta. Meruntut dari lokasi awal, menyusuri jalan jendral sudirman yg padat merayap. Maklum masa libur banyak orang pergi berakibat jalan padat dan sesak. Tiba di lokasi penjemputan membutuhkan waktu 45 menit yang seharusnya bisa ditempuh 20 menit.
          Sesudah persiapan dan peserta masuk, segera bus meluncur ke arah timur melalui jal;u pantura. Menjelang siang, mem,asuki kota pati, peserta berhenti sejenak unt melakukan sholat siang. Membutuhkan waktu 1,5 jam krn masih mendengarkan kotib berkotbah. Akibatnya, rencana pk satu harus makan siang di Tuban, maka makan siang tertunda hingga pk 14.00. Tentu ini berakibat molornya jadwal yg lain.
          Memasuki arah Surabaya dengan melalui jalan Tol, makan malam cukup tertunda. Jam 7 malam masuk tol yg berakibat tak bisa menemukan rumah makan unt makan malam. Makan malam teretrunda, dan baru bisa santap malam setelah keluar dari tol di sebuah depot makan sederhana. Sebenarnya pemilik akan menutup krn pesanan sdh overlout, dgn sisa lauk yg ada kami dilayani unt makan malam. Maklum krn lapar, kami terlihat lahap sekali. Sambil sekali bergurau unt menghilangkan rasa lelah akhirnya nasi satu piring habis masuk perut.
          Tengah malam, rombvongan memasuki Kota Bangil. Berhenti sejenak, menunggu 2 orang eserta yg ruanya ikut dengan memanfaatkan erjalanan yg harus mamir dulu. Cukup 10 menit uarng yang ditunggu sdh datang. Seorang ibu tengah baya beserta anaknya siap naik dan menuju Bali. Mereka murah senyum dan kelihatan senang. Ternyata baru satu kali ini ke bali. Itu mungkin petunjuk ronan wajah yg ceria.
           Pagi kami belum menunjukkan tanda2 samapai penyeberangan. rupanya bus yg saya tumpangi kurang menunjukkan greget untuk mengejar waktu. Jam 9 kami hamir mendekati Ketapang. Bus saya perintahkan unt berhenti cari tempat transit unt sarapan dan makan pagi.
            Sebuah rumah makan penyedia soto surabaya kami temukan. Pintu terbuka, anehnya penghuni tak bisa ditemukan. Kami beranikan masuk dengan memberi uluk salam. "Niat ingsun masuk unt keperluan baik" Dengan rasa pd kujelajah ruang sekitar. tak juga kutemukan enghuni. Sesaat berikutnya, seorang gadis remaja yg rupanya pelayan rumah makan keluar, kelihatan habis mandi. Dengan kikuk ia menemuiku. Kujelaskan maksud dan tujuan ke sini. Ia mengangguk, rupanya mengerti apa yg kumaksud.
             Dengan seijin pelayanan rumah makan kupersilakan peserta tour unt mandi dengan 4 kamar mandi yg tersedia. Bergilir mereka memanfaatkan sambil menanti soto disiapkan untuk dihidangkan pada kami.  Bergantian kami mandi, hingga soto dan segelas teh hangat tersaji di meja. Tak sabar hidangan itu disantap.
             Jam 11.00 bus telah andri di penyeberangan. Seorang petugas tak resmi-sepertinya tak menggunakan seragam tapi miunta uang penyeberangan yg tak sesuai  tarif yg tertera di loket masuk- nmemninta uang dan karcis pas unt menyeberang. Sempat aku cari info, ternyata tarif tak resmi ini sdh biasa berjalan. Anehnya petugas resmi membiarkan hal itu. Bentuk korupsi lain yg dipelihara di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Entah kapan akan berakhir.
              Agak siang baru sampai Gilimanuk. Perut sdh kerocongan, tanda minta isi. Segera soir aku intruksi berbelok jika ketemu rumah makan. Akhirnya sebuah rumah makan di tepi sawah yg lumayan nyaman, disitu romb berhenti. Kupesan sejumlah porsi makan model prasmanan. Peserta tourpun mengambil dgn senang. Satu babak mencapai Bali dimulaiu.
             Diseberang sana rupanya seseorang menelon. Ternyata Nyoman Page, seorang Gaet lokal dengan ramah menyapa. "Sampai mana, Bos?" Sejak pagi ia telah menyiapkan diri unt menjemput. Betapa sabar, bayangkan dari pagi hingga menjelang sore menanti kedatangan kami. Sempat makan siang jua.
             Setelah sampai di penjemputan, Nyoman Page naik. Tak lupa salam ramah terkulum di wajahnya sambil kedua tangan diosisi depan dada tanda hormat. Karakter orang Bali yg selalu menyenangkan tamu datang ke Bali.
              Rombongan langsung menuju Tanah LOT sebagai awal pembuka menjelajah Bali. Ruapanya tepat, terjadi Sunset. Sangat ramai wisatawan mengerumuni sekitar Tanah LOT. Setelah Photo sana-sini, tak terasa malam mulai merambat. Jam nenunjuk k tujuh, romb memutuskan pulang menuju ke penginapan. Sestelah henti sejenak unt makan malam, romb menuju daerah Ubung di mana kami menginap. Ruapanya sfdh banyak romb yg datang lebih dulu. Selesai cekinn, kami berikan kunci kamar pada setiap regu unt mencari kamar sesuai nomor yg ada pada kunci. Rupanya tak begitu suli, setelah saya cek semua regu sdh dapat kamar walau saling pisah. Maklum musim liburan, hampir semua kmr penuh penghuni.
                                                                                  ***
             Tiba hari yg dinanti, Besakih adalah tujuan kami hari berikutnya. Setelah bnersih diri dan membagikan boxlunch unt sarapan dan hemat waktu, bus meluncur menuju Besakih. Jalan mulus berkelok mengarahkan kami sampai Kintamani. Indahnya panorama dgn Gunung Batur-nya. Serasa nyaman ada di atas jalan tinggi yg telah berpagar. Rupanya sdh ada perbaiukkan unt wisatawan bisa menikmati panorama dgn kondisi yg baik. Apalagi pedagang sdh dibuatkan tempat tersendiri. Wisatawan terasa tak terusik lagi dgn adanya pedagang yg selalu mengejar. Rupanya pemda setempat mempertbaiki situasi demi kenyamanan bersama. Saya yakin pasti akan banyak turis yg datang dgn keadaan seperti ini.
              Selanjutnya Gaet mempersilakan pesrta unt masuk bus. Kunjungan kali ini sdh cukup. Ada dua jalan yg mrengarah ke Besakih. Gaet intyruksikan arah kanan sebagai jalan pintas agar lebih cepat walau mungkin agak sempit. Sebaliknya kalau lewat jalan reguler perjalanan bisa 2 jam lebih. Dgn pintas ini waktu dipersingkat jadi 1 jam 10 menit. Adanya untungnya bawa gaet bali asli, mengetahui rute terbaik dan tersingkat yg bisa dijangkau.
              Setelah bayar tiket, bus arah naik berbelok pada tempat arkir yg telah disediakan. Tidak seramai LOT. Entah apa demikian. Setelah saya tanyakan, ternyata banyak biro tak mau ke sana. Dari segi bus, sopir merasa terlalu boros solar krn medan yg menanjak dan jauh. Memang penda setempat erlu promosi agar Besakit tetap ramai seramai LOT.
              Dengan sedikit naik dan menanjak yg harus dilalui dgn jalan kaki- bisa jua naik ojek kalau mau-sampailah pada kaki Pura Besakih. Kalau dibandingkan, sebuah monumen sekelas Borobudur di Jawa Tengah. Bangunan yg menjulang berundak semakin ke arah atas, semakin menambah takjub. Ada pemisahan rupanya yg telah dibuat kebijakan. Unt masuk pura hanya yg mau ibadah, sedang unt keperluan wisata hanya boleh diluar pura.
              Jangan heran, tawaran jualan akan menyertai kita selama berkunujng ke Besakih. Tapi memang itulah yg menjadi mata pencaharian penduduk sekitar dlm mengais rejeki dari wisatawan. Memang perlu bijak dgn cara membeli. Dgn demikian masyarakat wisata sekitar Besakih memperoleh penghasilan. Inilah yg dikatakan widsata unt kesejahteraan masyarakat.
               Setelah cukup puas, kami putuskan untuk turun menuju Sukawati membeli oleh-oleh sebagai buah tangan di rumah. Dalam perjalanan mencari Rumah makan unt makan siang cukup sulit. Banyak rumah makan yg tutup karena sepinya pengunjung. Rumah makan bisa melayani sesuai kebutuhan dgn cara pesan jauh sebelumnya. Maklum mereka masak jika ada pesanan. Ini dilakukan unt ,emnghindari kerugian krtn serpinya pengunjung. Saya sempat memperoleh no telp rumah makan dimaksud kalau suatu ketika mau ke Besakih maka saya akan pesan jauh sebelumnya biar bisa dilayani.
                  Akhirnya sampai ke Sukawati. Sejenak kami makan siang di depan Pasar Sukawati pada Rumah Makan Padang. Kami harus antri krn banyaknya pembeli yg makan siang bersamaan. Dengan lahap kami makan. Sesudahnya, peserta tour menyebar memasuki pasar unt belanja oleh2. Padatnya pengunjung dimusim libur menyulitkan cari tempat parkir.Akhirnya peserta puas. Selanjunya menuju Kutha melihat keramaian malam di kutha. Hari ini perkunjungan diakhiri.